Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Sejak era sosial media, kita sudah tidak asing lagi pada konten-konten influencer atau selebriti yang suka pamer harta kekayaan ataau gaya hidup mewah. Mulai dari supercar, jam tangan mewah, tas branded, jet pribadi, hingga memelihara hewan eksotis yang dilindungi. Semua itu selalu berhasil membuat views dan engagement naik. Masyarakat Indonesia memang mudah kagum pada simbol kekayaan.
Dan fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Tapi di seluruh dunia. Ada hal menarik yang Anda harus ketahui, di balik flexing gaya hidup mewah ada tujuan tersembunyi yang jarang diungkap. Di mana flexing menjadi bagian penting dari sebuah pola pencucian uang modern. Hubungannya apa flexing dengan modus pencucian uang?
Sebelum melanjutkan pembahasan perihal ini kami ingin disclaimer lebih dulu, di artikel ini kami bukan menuduh tokoh atau individu mana pun. Tapi kami ingin menjelaskan kalau ada modus pencucian uang modern yang terus berkembang. Di mana salah satunya dengan menggandeng influencer atau selebriti yang suka flexing di sosial media. Mari kita lanjut pembahasannya.
Konten flexing ini sudah menjadi hal biasa sekarang. Tapi coba Anda ingat di era tahun 2000an, hampir tidak ada artis besar yang pamer harta kekayaan. Tapi sejak munculnya Instagram, Youtube, dan TikTok, flexing ini berubah menjadi strategi branding dan simbol kesuksesan. Dan semakin mewah gaya hidupnya, semakin banyak followersnya dan semakin tinggi juga engagementnya.
Tapi di balik semua itu sering kali ada kepentingan gelap yang menunggangi. Karena influencer dan selebriti yang suka flexing tidak jarang menjadi sarana pencucian uang oleh para mafia, bisnis ilegal, bandar judi online, termasuk koruptor yang ingin mencuci uang hasil korupsinya. Nah untuk bisa mengerti apa hubungan flexing dan pencucian uang, kita perlu paham lebih dulu apa definisi dari pencucian uang itu.
Pencucian uang itu adalah proses menyamarkan uang hasil kejahatan agar uang itu tampak bersih dan legal. Agar bisa dipakai tanpa menimbulkan kecurigaan. Prinsipnya sederhana. Ada 3 tahap dalam pencucian uang itu sendiri.
Dulu praktik pencucian uang sering kita temui melalui bisnis yang bersifat “Cash-Heavy”, misalnya bisnis nightclub, tempat dugem, hotel, spa, galeri seni atau bisa juga restoran. Mengapa bisnisnya seperti itu? Karena bisnis yang kami sebutkan tadi terbilang mudah memanipulasikan laporan keuangannya. Selisih margin keuntungannya juga bisa diotak-atik sesuai kesepakatan dan negosiasi.

Sekarang praktik ini bergeser. Di era media sosial, salah satu modus baru adalah menggandeng influencer atau selebriti. Tapi mengapa harus influencer atau selebriti? Ingat, prinsip pencucian uang adalah membuat transaksi besar terlihat wajar dan margin selisih profitnya besar. Pelaku pencucian uang tidak bisa tiba-tiba transaksi uang milyaran ke orang biasa. Hal itu terlalu mencurigakan. Tapi kalau selebriti atau influencer yang mendapatkan transfer uang milyaran, itu bisa dianggap wajar. Karena memang mereka terbiasa mendapatkan transferan uang besar. Apalagi influencer atau selebriti yang sudah membranding dirinya dengan gaya hidup mewah.
Di situlah flexing berperan. Semakin sering mereka pamer harta akan semakin mudah pencucian uang bisa keluar masuk dalam bentuk berbagai proyek dan juga jual beli barang bernilai tinggi tanpa dicurigai. Mekanismenya seperti apa?
Yang pertama, modus yang paling efektif adalah pelaku kejahatan mengajak influencer untuk membuat bisnis bersama. Bisnisnya bisa berbentuk apa saja. Selama perputaran uangnya bisa di mainkan. Bisa jadi bisnis skincare, restoran, brand fashion, frenchise makanan, atau bisa juga agensi kreatif. Mungkin Anda sering melihat bisnis para artis, entah itu dari dalam atau luar negeri yang terlihat laku keras. Tapi kualitas produknya ternyata biasa saja. Atau bahkan hanya meledak sesaat setelah itu redup.
Sebenarnya bisnisnya itu bahkan tidak perlu laku, yang penting terlihat laku saja. Tapi mengapa harus terlihat laku? Jadi mekanismenya seperti ini.
Pertama pelaku itu mengajak influencer untuk bisnis bersama, lalu uang hasil bisnis ilegal disuntikkan menjadi modal. Yang mana biasanya dari perusahaan cangkang yang basisnya di luar negeri. Dalam metode pencucian uang, tahap ini disebut tahap placement.
Setelah uang itu masuk tentu tidak bisa langsung dinikmati. Melainkan harus diputar lebih dulu agar uangnya terkesan hasil dari berbisnis. Di sinilah flexing berguna untuk ke tahap yang disebut layering. Yaitu memutar uang melalui berbagai transaksi agar jejak asal samar. Misalnya, uangnya dipindahkan lintas rekening, dipakai untuk membeli barang kebutuhan, untuk bayar jasa influencer atau endorse, dipakai untuk jual beli barang mewah, hewan langka, barang koleksi seni, jasa MC, membuat produk limited edition dan lain-lain.
Harganya bisa diatur seenaknya. Agar nantinya saat masuk laporan keuangannya besar. Flexing ini berguna sebagai justifikasi kalau influencer atau selebriti tertentu memang sedang naik daun dan kebanjiran job. Jadi kekayaannya bertambah signifikan. Setelah jejaknya disamarkan, barulah pelaku bisa masuk ke tahap berikutnya yaitu integration.
Di sini uang dinikmati melalui berbagai cara. Misalnya dari pembagian dividen atau kapital gain dari penjualan saham. Setelah saham IPO atau disuntik oleh pemodal baru. Atau bahkan dari pembelian jasa ke vendor-vendor yang ternyata juga dimiliki pelaku. Dengan begitu uang kotor sudah berubah menjadi aset yang legal dan bisa dinikmati.
Sekarang Anda mungkin berpikir untuk apa kita peduli dengan pencucian uang ini? Memangnya berpengaruh pada kita? Sebenarnya ini bukan hanya permainan orang kaya saja. Karena tanpa sadar kita juga bisa menjadi korban dari rantai pencucian uang.
Contohnya, munculnya produk milik artis yang overprice. Skincare, makanan atau fashion brand yang dijual sangat mahal tapi kualitasnya seadanya. Masyarakat tetap membeli karena terpikat oleh nama besar si artis, padahal produk itu bisa saja hanya etalase untuk memutar uang gelap.
Contoh lainnya, lowongan kerja palsu. Banyak lowongan kerja gelap di perusahaan turunan yang kerjanya hanya menerima dan setor uang saja ke rekening tertentu. Dari luar terlihat legal, padahal itu adalah trik layering. Begitu ketahuan oleh PPATK bisa jadi karyawan kecil atau pekerja lepasan akan dimintai keterangan.
Contoh lagi, dalam modus titip rekening. Ini banyak terjadi di daerah-daerah. Di mana ada praktik pinjam nama untuk buka rekening bank. Orang yang minim literasi keuangan tergiur imbalan kecil. Padahal nama dan rekeningnya dipakai untuk keluar masuk uang haram. Kalau ketahuan justru dia yang namanya rusak di mata perbankan.
Ironisnya masyarakat mengira kalau mereka sedang mendapat peluang. Padahal sebenarnya terjadi mereka dijadikan pion. Uang gelap berhasil diputihkan. Sementara risiko hukum justru menimpa orang-orang biasa yang tidak benar-benar paham dengan permainan pencucian uang ini.
Dan sebenarnya flexing juga punya dampak sosial lain. Yaitu membentuk ilusi sukses. Ketika masyarakat awam melihat selebriti atau influencer pamer rumah megah, supercar, atau liburan mewah, kita langsung kagum dan percaya kalau semua itu adalah hasil dari kerja keras. Padahal tidak ada yang benar-benar tahu dari mana uangnya berasal. Tapi karena mereka terlihat sibuk, punya banyak endorse, dan dikaitkan dengan bisnis sukses, tidak jarang masyarakat jadi ikutan termakan. Dan menjadi konsumen dari bisnis-bisnis mereka yang hanya dibuat asal-asalan saja.
Akibatnya budaya konsumtif semakin kuat. Masyarakat berlomba ikut bergaya hidup mewah meski dengan berhutang pada pinjaman online dan payletter. Sementara pelaku di balik layar berhasil mencuci uangnya dengan mulus. Publik malah menjadi penonton yang terhipnotis.

Inilah wajah baru pencucian uang. Kalau dulu restoran sepi, club malam atau hotel menjadi medium favorit, sekarang era media sosial membuka jalur baru. Flexing harta melalui influencer atau selebriti. Bedanya dulu permainan ini tersembunyi di balik usaha-usaha gelap. Sekarang ditampilkan terang-terangan di Instagram dan Tiktok dibungkus dengan narasi kerja keras dan kesuksesan instan.
Jadi lain kali kalau Anda melihat flexing di media sosial, jangan langsung kagum. Karena yang terlihat mewah belum tentu asli. Dan yang tampak wajar bisa saja hanya sebuah ilusi. Flexing bukan hanya gaya hidup tapi bisa jadi bagian dari mesin pencuci uang zaman sekarang.
Semoga informasi ini bermanfaat!
Disclaimer:
Informasi pada artikel ini disajikan hanya untuk tujuan edukasi dan referensi umum. Penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi, kerugian, atau tindakan yang diambil berdasarkan informasi ini. Pastikan Anda melakukan verifikasi dan konsultasi profesional sebelum membuat keputusan keuangan atau bisnis.