Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Jujur ya, gaji kita itu sebenarnya tidak pernah benar-benar naik. Iya, angkanya mungkin sedikit bertambah di atas kertas slip gaji Anda. Tapi kalau diadu dengan realitas di lapangan, daya beli kita itu hancur lebur. Coba Anda perhatikan harga beras, minyak goreng hingga biaya sewa kos yang naiknya sudah menggila belakangan ini. Bandingkan dengan gaji kita yang jalannya sangat lambat, persis seperti siput yang sedang koma.
Pernahkah Anda merasa kalau sistem ekonomi hari-hari ini memang sengaja didesain untuk membuat kita miskin perlahan. Rasanya seperti ada tangan yang tidak terlihat yang merogoh kantong celana kita setiap hari lalu mengambil uang recehan kita tanpa permisi. Masalahnya musuh kita bukan hanya inflasi atau harga cabai yang mahal, musuh terbesar kita adalah budaya konsumerisme yang memaksa kita membeli barang sampah yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
Parahnya lagi, kita didorong untuk bayar barang itu pakai uang yang belum kita miliki. Lewat fitur payletter atau pinjaman online. Semua itu hanya demi mendapatkan validasi atau pamer pada orang asing di internet yang bahkan tidak peduli pada kita. Makanya hari ini kita tidak akan membahas tips basi seperti mengurangi jajan kopi atau menabung uang koin di celengan ayam. Itu adalah nasihat untuk tahun 90an yang sudah tidak relevan dipakai sekarang.
Situasi hari ini beda dan kita butuh strategi “perang.” Kita akan membongkar strategi jalanan. Bukan cara menjadi kaya instan tapi cara bertahan hidup dengan kepala tegak di tengah badai harga. Kita akan bahas 6 taktik licik untuk melawan balik kenaikan harga tanpa harus menjadi hamba utang. Siapkan mental Anda karena pembahasan ini akan menyerang ego Anda dan mengubah cara pandang Anda perihal uang selamanya.
Trik Licik 6: Jujur Brutal Pada Teman Nongkrong
Kita masuk ke hitungan mundur strategi kita. Trik licik nomor 6 adalah jujur brutal pada teman nongkrong. Coba Anda pikirkan lagi, sering kali kebocoran terbesar di dompet kita itu bukan karena kebutuhan perut tapi karena biaya sosial alias validasi. Masalah finansial anak muda zaman sekarang seringnya bukan karena harga beras naik Rp. 1000 atau Rp. 2000 tapi karena kita tidak enak hati menolak ajakan teman untuk nongkrong di tempat yang harga es teh manisnya bisa untuk beli bensin seminggu. Makanya di trik nomor 6 ini kita harus belajar 1 skill komunikasi yang paling ditakuti tapi paling ampuh, yaitu seni ngomong, “Sorry bro, budget sedang tipis.”
Kelihatannya sederhana tapi dampaknya luar biasa. Mengatakan kalimat itu bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda kalau kita punya keberanian dan kontrol penuh atas hidup kita. Jangan mau dipaksa miskin hanya untuk terlihat asyik di mata orang lain. Kalau teman Anda mengajak pergi ke restoran mahal, tawarkan alternatif yang masuk akal. Misalnya nongkrong di warkop atau taman kota.
Bayangkan kalau setelah Anda jujur soal kondisi keuangan Anda dan teman-teman Anda malah menjauh atau nyinyir, itu sebenarnya berita bagus sekali untuk kita. Mengapa? Karena artinya Anda baru saja membuang parasit dari hidup Anda secara gratis. Logikanya begini, teman sejati itu tidak akan peduli kita minum kopi sachet 5 ribuan atau kopi fancy 50 ribuan.
Mereka nongkrong untuk orangnya, bukan untuk gengsinya. Kalau mereka pergi hanya karena kita mau berhemat, berarti selama ini kita hanya jadi penonton bayaran di panggung drama mereka. Lalu, kita juga harus mulai memeluk konsep JOMO atau Joy Of Missing Out.
Nikmatilah perasaan ketinggalan itu! Ada ketenangan luar biasa saat kita memutuskan untuk tidak ikut foya-foya malam mingguan. Saat yang lain pusing memikirkan patungan bill di akhir bulan, kita tidur nyenyak karena saldo aman. Di trik nomor 6 ini intinya hanya 1, dompet kita lebih berharga daripada tepuk tangan palsu di tongkrongan.
Trik Licik 5: Loyalitas Merek = Pajak Orang Bodoh
Masuk pada trik licik nomor 5, ini adalah jebakan paling halus tapi paling mematikan untuk dompet kita. Yaitu loyalitas merek. Sadar tidak kalau selama ini kita bayar mahal hanya untuk stiker saja. Coba buka mata lebar-lebar, di dunia industri itu ada rahasia umum yang jarang orang tahu. Banyak produk kebutuhan sehari-hari mulai dari gula pasir , tepung terigu hingga sabun cuci itu sebenarnya diproduksi di pabrik yang sama persis. Mesinnya sama, bahan bakunya sama dan pekerjanya sama. Tapi begitu keluar dari pabrik nasib barang-barang ini beda jalur. Satu dimasukkan pada plastik polos transparan lalu dijual murah. Satunya lagi dimasukkan pada kotak warna-warni diberi logo terkenal lalu diiklankan oleh artis papan atas. Harganya langsung melambung tinggi. Bisa 2-3 kali lipat.
Selisih harga yang gila-gilaan itu kita sebut sebagai pajak orang bodoh. Maaf kalau bahasanya kasar. Tapi memang begitu kenyataannya. Kita dengan suka rela membayar lebih mahal bukan karena kualitas barangnya lebih bagus. Kita bayar mahal hanya mensubsidi biaya iklan mereka di TV dan bayar gaji artis yang menjadi bintang iklannya. Kita beli gengsi semu yang ditanamkan oleh departemen marketing pada otak kita.
Ambil contoh paling brutal di apotek. Yaitu obat pereda nyeri atau paracetamol. Coba Anda bandingkan paracetamol generik yang harganya recehan dengan obat merk terkenal yang kemasannya mentereng. Kalau Anda baca komposisi di belakangnya isinya itu sama persis. Molekul kimianya sama, dosisnya sama dan cara kerjanya di tubuh kita juga sama. Sakit kepala Anda akan hilang sama cepatnya. Entah itu pakai yang murah atau yang mahal.
Mungkin Anda akan mengetes dan bilang kalau rasanya beda. Atau kualitasnya beda. Padahal kalau kita lakukan tes buta, di mana mata Anda ditutup lalu disuruh membandingkan rasa atau khasiatnya 90% waktu Anda tidak akan bisa membedakan mana produk mahal dengan produk murah. Jadi, mulai sekarang berhentilah menjadi donatur suka rela untuk perusahaan raksasa. Jangan mau diperas hanya karena logo. Baca komposisi di belakang kemasan. Dan kalau isinya sama persis, mengapa Anda harus bayar pajak gengsi? Jadilah konsumen cerdas yang beli fungsi bukan beli ilusi.

Trik Licik 4: Jadikan Dapur Sebagai Markas Perlawanan Finansial.
Baca ini baik-baik. Karena ini sangat penting mengubah mindset kita. Selama ini lingkungan kita sering meledek kalau bawa bekal ke kantor atau kampus itu tandanya orang pelit, kurang gaul atau sedang bokek berat. Padahal realitasnya justru kebalikannya. Bawa bekal itu sebenarnya simbol pembangkangan paling cerdas untuk melawan sistem.
Coba kita bedah matematikanya pakai logika pedagang. Saat Anda beli makanan di luar, entah di kafe estetik atau restoran frenchise besar, sebenarnya harga bahan baku makanannya itu hanya selitar 30-40% saja dari harga menu. Lalu sisa uang yang Anda bayar larinya ke mana? Ya jelas untuk bayar sewa ruko mereka, bayar listrik AC agar dingin, bayar dekorasi instagramable hingga bayar gaji karyawan mereka.
Sekarang, tanyalah pada diri Anda sendiri dengan jujur. Mengapa kita harus suka rela membayar sewa ruko orang lain setiap hari sementara bayar kos atau cicilan rumah sendiri saja masih ngos-ngosan? Itu kan tidak masuk akal sama sekali. Makanya kita perlu sadar kalau skill masak itu bukan hanya hobi untuk ibu-ibu atau chef di TV. Masak adalah skill survival dasar manusia yang wajib kita punya. Kalau Anda sama sekali tidak bisa masak dan malas belajar, artinya Anda secara sadar menyerahkan leher Anda untuk menjadi sandaran industri makanan instan. Anda akan terus-terusan diperbudak oleh aplikasi delivery dan ongkir biaya lainnya makin lama makin tidak masuk akal.
Dengan masak sendiri kita pegang kendali penuh. Kita tahu persis apa yang masuk pada badan kita. Tidak ada lagi minyak jelantah hitam atau micin berlebihan. Dan yang paling penting kita bisa stop pendarahan hebat di dompet kita. Jadi mulai besok pagi, ubah cara pandang Anda! Anggaplah kompor dan panci di dapur itu bukan hanya alat masak biasa. Itu adalah senjata utama kita untuk melawan sistem harga yang memang didesain untuk membuat kita miskin pelan-pelan. Ini adalah bentuk harga diri kita.
Trik Licik 3: Operasi Militer Buru Vampir Listrik Di Rumah
Sekarang kita masuk trik licik nomor 3, ini adalah operasi militer rumahan untuk memburu vampir listrik. Sadarkah Anda kalau di dalam rumah kita itu ada musuh dalam selimut yang diam-diam menyedot isi dompet kita setiap detik. Namanya adalah phantom load atau beban hantu. Banyak dari kita yang masih sangat lugu perihal ini. Kita pikir kalau sudah pencet tombol off di remote TV atau AC berarti aliran listriknya putus total. Padahal fakta sebenarnya jauh lebih licik dari itu.
Selama colokannya masih menempel di tembok dan ada lampu indikator kecil yang menyala merah atau hijau, itu artinya meteran listrik Anda masih jalan terus. Argonya tetap berputar.
Coba Anda bayangkan situasi di rumah Anda sekarang. Lihat charger HP yang menggantung di tembok padahal HPnya sedang Anda pegang. Lihat rice cooker yang mode warmnya nyala 24 jam. Padahal isinya hanya sisa kerak nasi kering yang tidak akan Anda makan juga. Lihat TV, microwave, komputer hingga mesin cuci. Semuanya diam. Tapi sebenarnya sedang minum listrik Anda perlahan. Mungkin Anda berpikir, “Itu hanya lampu indikator kecil. Paling hanya makan listrik 5 watt saja. Apa ngaruhnya sih buat keuangan?”
Nah, di sinilah letak kesalahan fatal kita. 5 watt itu memang kecil kalau hanya 1 alat dan 1 jam. Tapi coba kita pakai matematika orang dewasa. Coba Anda kalikan 5 watt itu dengan 5-10 alat elektronik di rumah. Lalu dikali 24 jam non stop. Lalu dikali 365 hari setahun. Angkanya menjadi monster kan? Itu uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah yang kita bakar percuma hanya untuk menghidupkan lampu stand by yang tidak ada gunanya sama sekali untuk hidup kita. Kita secara suka rela menyerahkan uang jatah makan enak kita pada perusahaan listrik tanpa mendapatkan imbal balik apa pun.
Makanya mulai hari ini kita harus ubah mindset kita jadi mode perang. Perlakukan meteran listrik itu seperti musuh yang licik. Jangan beri dia makan gratis 1 watt pun. Biasakan tangan kita untuk cabut colokan dari terminalnya, kalau memang barangnya sedang tidak dipakai. Ingat ya, kita melakukan ini bukan karena kita pelit, kikir atau tidak mampu bayar. Bukan! Kita melakukan ini karena kita punya harga diri, kita ogah dikadalin oleh sistem. Dan kita ogah membuang uang hasil keringat kita untuk hal yang sia-sia. Jadi berhenti memberi makan vampir listrik itu. Dan selamatkan uang Anda untuk hal yang lebih berguna dan penting.

Trik Licik 2: Rumus “Jam Perbudakan” Hitung Harga Pakai Keringat
Mulai detik ini, kita harus berhenti melihat label harga barang pakai mata uang Rupiah. Serius! Itu cara pandang orang yang mau dimiskinkan oleh sistem. Mulai sekarang kita ganti mata uang di otak kita jadi mata uang paling mahal dan tidak bisa dicetak ulang di dunia ini, yaitu waktu dan keringat kita sendiri.
Masalah terbesar kita selama ini adalah kita melihat uang itu hanya sebagai angka abstrak. Saat kita gesekkan kartu debit atau scan QRIS itu rasanya tidak sakit sama sekali. Karena angkanya hanya pindah secara digital di layar HP. Padahal uang di rekening itu sebenarnya adalah potongan waktu hidup kita yang sudah kita tukar dengan pekerjaan. Itu adalah sisa nyawa kita yang sudah kita jual pada perusahaan.
Coba deh kita hitung bareng agar terasa tamparannya. Ambil gaji bersih Anda sebulan. Lalu bagi angka itu dengan total jam kerja Anda sebulan. Jangan curang ngitungnya! Masukkan juga waktu lembur yang tidak dibayar dan waktu tua Anda yang habis untuk macet-macetan di jalan saat berangkat kerja. Katakanlah setelah dihitung ketemu angka Rp. 25 ribu/jam. Angka Rp. 25 ribu itulah harga diri per jam Anda di pasar tenaga kerja saat ini.
Sekarang bawa angka itu kalau Anda sedang jalan ke mall atau buka aplikasi pesan antar makanan. Lihat kopi susu gula aren kekinian yang harganya Rp. 50 ribu itu. Jangan lihat harganya Rp. 50 ribu, ubah mindset Anda. Lihatlah kopi itu seharga 2 jam hidup kamu. Bayangkan apakah segelas air manis itu sepadan dengan 2 jam Anda mendengarkan omelan bos yang membuat sakit kepala? Apakah rasanya sebanding dengan 2 jam Anda menahan pipis dan emosi demi mengejar deadline laporan yang tidak masuk akal?
Kalau Anda ingin beli sepatu Sneakers yang sedang hits seharga Rp. 1 juta itu artinya Anda harus kerja rodi selama 40 jam alias seminggu full hanya untuk membungkus kaki Anda pakai karet dan kain itu. Pertanyaannya sangat sederhana sebelum Anda bayar di kasir, apakah barang itu sepadan dengan penderitaan dan encok di punggung kita selama di kantor? Biasanya jawabannya adalah tidak.
Cara pandang ini adalah rem tangan paling pakem untuk menahan nafsu belanja impulsif. Kita jadi berpikir seribu kali sebelum mengeluarkan uang. Karena kita sadar yang kita keluarkan bukan hanya kertas. Melainkan potongan nyawa kita sendiri.
Trik Licik 1: Supermarket Adalah Kasino, Kenali Jebakan Tikus Mereka
Sampailah kita pada rajanya tipu daya. Ini adalah strategi yang paling sering kita remehkan. Padahal efeknya paling mematikan untuk dompet bulanan. Trik licik nomor 1, supermarket itu bukan tempat belanja biasa. Mereka adalah kasino yang menyamar.
Coba Anda perhatikan baik-baik saat belanja bulanan, pernah sadarkah kalau di dalam supermarket besar itu hampir tidak pernah ada jam dinding. Lalu sangat jarang ada jendela yang menunjukkan suasana di luar ruangan itu gelap atau terang. Ini bukan kebetulan arsitektur. Ini persis sama dengan desain lantai kasino di Las Vegas. Tujuannya hanya 1, membuat Anda lupa waktu. Membuat Anda lupa realitas. Dan yang paling parah membuat Anda lupa pada budget yang sudah disiapkan dari rumah.
Lalu lihatlah juga tata letak barangnya. Barang pokok yang pasti dicari semua orang seperti beras, telur, susu atau minyak goreng selalu ditaruh di rak ujung paling belakang toko. Mengapa harus sejauh itu? Apa karena gudangnya di belakang? Jelas bukan! Itu adalah strategi agar kita dipaksa melewati lorong-lorong penuh godaan diskon palsu dulu sebelum sampai pada titik tujuan utama Anda.
Di sepanjang perjalanan ziarah menuju rak beras itu, mata kita akan dihajar oleh tumpukan snack promo, cokelat diskon dan barang-barang imut nan lucu yang sebenarnya sampah. Sistem ini memanipulasi otak kita dengan sangat rapi. Musik yang diputar biasanya temponya lambat dan santai. Ini adalah trik psikologis agar langkah kaki kita ikut melambat tanpa sadar. Makin lambat kita berjalan, makin banyak barang yang kita lihat dan makin besar kemungkinan tangan kita gatal untuk mengambil barang yang tidak ada di rencana.
Ditambah lagi label harga warna merah atau kuning ngejreng yang memancing otak reptil kita untuk merasa ada urgensi seolah-olah kalau tidak dibeli sekarang, dunia akan kiamat. Makanya mulai sekarang kita harus ubah cara main. Jangan pernah masuk supermarket tanpa daftar belanjaan yang jelas. Anggap daftar belanja itu peta misi di medan tempur. Masuk, ambil target, bayar lalu langsung keluar. Jangan jalan-jalan santai sambil cuci mata. Jangan jadi turis di tempat pembantaian dompet. Kalau kita belanja pakai perasaan di kandang yang didesain oleh ahli perilaku konsumen, kita pasti akan kalah telak.
Sebenarnya kalau kita tarik benang merahnya, polanya sangat terbaca. Sistem ekonomi di luar sana itu memang didesain agar kita tetap bodoh dan konsumtif. Mereka senang sekali kalau kita boros listrik. Mereka tepuk tangan kalau kita malas masak dan lebih memilih beli makanan mahal hanya untuk gengsi. Mereka untung besar kalau kita buta pada merk.
Melakukan kebalikannya itu bukan hanya soal berhemat, tapi itu adalah tindakan perlawanan yang paling nyata. Makanya tolong ubah mindset Anda sekarang juga! Hidup hemat dengan strategi yang kita bahas tadi bukan berarti hidup menderita atau menyiksa diri sendiri. Sama sekali bukan!
Justru sebaliknya, kita sedang hidup dengan kesederhanaan dan kesadaran penuh. Kita tidak sedang pelit, tapi kita sedang berstrategi. Kita sedang membangun benteng pertahanan yang kuat agar masa depan kita tidak diatur oleh tumpukan tagihan atau promo tanggal kembar yang manipulatif. Jadi tugas Anda sederhana, coba mulai dari 1 langkah kecil hari ini juga. Entah itu mencabut colokan charger yang nganggur atau mulai bawa bekal sederhana dari rumah. Lakukan saja dulu. Ingat baik-baik, setiap Rupiah yang berhasil kita selamatkan dari pengeluaran bodoh adalah peluru tambahan untuk perang di masa depan. Jangan biarkan sistem yang curang ini mendikte dan menang begitu saja. Ambil kendali penuh dompet Anda sekarang. Semoga artikel kami ini bermanfaat!